Selasa, 23 Desember 2025

PTK

Penelitian Tindakan Kelas: Sebuah Pendekatan Reflektif untuk Peningkatan Praktik Pendidikan Berkelanjutan

Abstrak

This article explores Classroom Action Research (CAR) as a dynamic and reflective approach to enhance educational practices. It introduces CAR as a teacher-led methodology designed for continuous professional development and pedagogical innovation. The primary purpose is to elucidate the conceptual foundations, cyclical process, inherent benefits, and practical challenges of CAR, particularly within contemporary educational landscapes. By emphasizing systematic inquiry, collaborative reflection, and evidence-based decision-making, CAR empowers educators to address specific classroom issues, improve learning outcomes, and foster a culture of continuous improvement. The methodology statement outlines CAR’s iterative cycle of planning, acting, observing, and reflecting, highlighting its flexibility and responsiveness to diverse educational contexts. The article concludes by summarizing the transformative potential of CAR in bridging the gap between educational theory and practice, ultimately contributing to sustainable educational excellence.

Keywords: Classroom Action Research, Educational Improvement, Reflective Practice, Teacher Development, Pedagogical Innovation

Abstrak

Artikel ini mengkaji Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sebagai pendekatan yang dinamis dan reflektif untuk meningkatkan praktik pendidikan. PTK diperkenalkan sebagai metodologi yang dipimpin oleh guru, dirancang untuk pengembangan profesional berkelanjutan dan inovasi pedagogis. Tujuan utamanya adalah untuk menjelaskan dasar-dasar konseptual, proses siklus, manfaat yang melekat, dan tantangan praktis PTK, terutama dalam lanskap pendidikan kontemporer. Dengan menekankan penyelidikan sistematis, refleksi kolaboratif, dan pengambilan keputusan berbasis bukti, PTK memberdayakan para pendidik untuk mengatasi masalah kelas tertentu, meningkatkan hasil belajar, dan menumbuhkan budaya perbaikan berkelanjutan. Pernyataan metodologi menguraikan siklus iteratif PTK yang terdiri dari perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi, menyoroti fleksibilitas dan responsivitasnya terhadap berbagai konteks pendidikan. Artikel ini diakhiri dengan merangkum potensi transformatif PTK dalam menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik pendidikan, yang pada akhirnya berkontribusi pada keunggulan pendidikan berkelanjutan.

Keywords: Penelitian Tindakan Kelas, Peningkatan Pendidikan, Praktik Reflektif, Pengembangan Guru, Inovasi Pedagogis

Authors
Dr. Budi Santoso
Prof. Ani Wijayanti

Institutional affiliation with complete address and e-mail address.
Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, Indonesia.
E-mail: budi.santoso@upi.edu
Universitas Negeri Jakarta, Jakarta, Indonesia.
E-mail: ani.wijayanti@unj.ac.id


Pendahuluan

Dunia pendidikan senantiasa berada dalam pusaran perubahan yang dinamis, menuntut adaptasi dan inovasi berkelanjutan dari para praktisinya. Kualitas pembelajaran di kelas merupakan inti dari sistem pendidikan, dan upaya peningkatannya tidak dapat dilepaskan dari peran sentral guru. Seringkali, terdapat kesenjangan antara teori-teori pendidikan yang ideal dengan realitas praktik di lapangan. Guru dihadapkan pada tantangan unik di setiap kelas, yang membutuhkan solusi kontekstual dan responsif. Dalam konteks ini, Penelitian Tindakan Kelas (PTK) muncul sebagai sebuah metodologi yang memberdayakan guru untuk menjadi agen perubahan, bukan hanya sebagai pelaksana kurikulum semata. PTK memungkinkan guru untuk secara sistematis mengidentifikasi masalah, mengembangkan intervensi, mengevaluasi hasilnya, dan merefleksikan praktik mereka sendiri, sehingga tercipta siklus peningkatan yang berkelanjutan.

Latar belakang masalah dalam praktik pendidikan seringkali berakar pada kompleksitas interaksi di dalam kelas, keberagaman karakteristik siswa, serta tuntutan kurikulum yang terus berkembang. Guru mungkin menghadapi kesulitan dalam meningkatkan motivasi belajar siswa, mengelola kelas yang efektif, atau mengimplementasikan metode pengajaran inovatif. Literatur yang ada seringkali menyajikan temuan-temuan penelitian berskala besar yang mungkin kurang relevan secara langsung dengan konteks mikro kelas seorang guru. Oleh karena itu, diperlukan sebuah pendekatan yang memungkinkan guru untuk melakukan penyelidikan ilmiah terhadap praktik mereka sendiri, dengan tujuan untuk memecahkan masalah spesifik yang mereka hadapi. Pendekatan ini harus bersifat partisipatif, kolaboratif, dan reflektif, memungkinkan guru untuk mengembangkan pemahaman yang lebih dalam tentang praktik mereka dan dampaknya terhadap pembelajaran siswa.

Tinjauan literatur menunjukkan bahwa pengembangan profesional guru yang efektif harus melibatkan pengalaman langsung dan relevan dengan praktik mengajar mereka. Model pengembangan profesional yang pasif, seperti lokakarya satu kali, seringkali kurang efektif dalam menghasilkan perubahan perilaku jangka panjang di kelas. Sebaliknya, pendekatan yang melibatkan guru dalam proses penyelidikan aktif dan refleksi kritis terhadap praktik mereka sendiri cenderung lebih berhasil. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) menawarkan kerangka kerja yang kuat untuk mencapai tujuan ini. PTK bukan hanya sekadar alat untuk memecahkan masalah, tetapi juga merupakan proses pembelajaran bagi guru itu sendiri, memungkinkan mereka untuk mengembangkan keterampilan penelitian, analisis, dan refleksi yang esensial. Dengan demikian, PTK berkontribusi pada peningkatan kualitas pengajaran dan pembelajaran secara holistik.

Gambaran umum masalah penelitian ini adalah bagaimana guru dapat secara efektif menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik, serta secara sistematis meningkatkan kualitas pengajaran mereka di kelas. Meskipun banyak teori dan metode pengajaran telah dikembangkan, implementasinya di kelas seringkali menghadapi hambatan unik yang memerlukan pendekatan yang disesuaikan. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan secara komprehensif konsep, prinsip, siklus, manfaat, dan tantangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sebagai strategi yang memberdayakan guru. Kami akan mengeksplorasi bagaimana PTK dapat menjadi motor penggerak inovasi pedagogis dan pengembangan profesional berkelanjutan bagi para pendidik. Kebaruan dari karya ini terletak pada penekanan PTK sebagai pendekatan yang berpusat pada guru, yang secara aktif mendorong otonomi profesional dan kapasitas reflektif, berbeda dengan model penelitian tradisional yang seringkali bersifat eksternal dan kurang partisipatif. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk menyajikan PTK sebagai kerangka kerja yang esensial bagi setiap pendidik yang berkomitmen pada peningkatan berkelanjutan dalam praktik pengajaran mereka.


Metode

Bagian ini tidak menjelaskan metode penelitian yang digunakan untuk menyusun artikel ini, melainkan menguraikan metodologi Penelitian Tindakan Kelas (PTK) itu sendiri, yang merupakan fokus utama dari artikel ini. PTK adalah pendekatan sistematis untuk meningkatkan praktik pendidikan melalui siklus iteratif perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Metodologi ini dirancang untuk memberdayakan guru sebagai peneliti di kelas mereka sendiri, memungkinkan mereka untuk mengatasi masalah spesifik dan meningkatkan hasil belajar siswa.

1. Karakteristik Utama PTK
PTK memiliki beberapa karakteristik khas yang membedakannya dari jenis penelitian lain:

  • Partisipatoris dan Kolaboratif: Guru adalah peneliti utamanya, seringkali berkolaborasi dengan rekan sejawat, kepala sekolah, atau ahli pendidikan. Kolaborasi ini dapat meningkatkan kualitas refleksi dan tindakan (Saragih et al., 2023)¹.
  • Situasional dan Kontekstual: Fokus pada masalah nyata yang muncul dalam konteks kelas tertentu, bukan generalisasi yang luas.
  • Siklus Iteratif: Proses PTK tidak linear tetapi berulang, memungkinkan penyesuaian dan penyempurnaan tindakan berdasarkan temuan observasi dan refleksi.
  • Reflektif dan Kritis: Mendorong guru untuk secara kritis menganalisis praktik mereka, mengidentifikasi asumsi, dan mempertimbangkan alternatif.
  • Berorientasi Tindakan: Tujuan utama adalah untuk menghasilkan perubahan positif dalam praktik pengajaran dan pembelajaran.

2. Siklus Penelitian Tindakan Kelas
Siklus PTK umumnya terdiri dari empat fase yang saling terkait:

  • Perencanaan (Planning):

    • Identifikasi Masalah: Guru mengidentifikasi masalah atau area yang perlu ditingkatkan dalam praktik pengajaran mereka. Ini bisa berasal dari observasi kelas, hasil belajar siswa, atau umpan balik. Masalah harus spesifik, dapat diatasi, dan relevan dengan praktik guru.
    • Perumusan Tujuan: Menetapkan tujuan yang jelas dan terukur untuk tindakan yang akan dilakukan. Tujuan ini harus selaras dengan masalah yang diidentifikasi.
    • Pengembangan Rencana Tindakan: Merancang intervensi atau strategi pengajaran baru yang diyakini akan mengatasi masalah. Ini mungkin melibatkan perubahan metode mengajar, materi, atau strategi evaluasi. Perencanaan yang matang sangat penting untuk mencapai tujuan yang diinginkan (Paul et al., 2022)².
    • Penentuan Metode Pengumpulan Data: Memilih alat dan teknik untuk mengumpulkan data selama fase tindakan dan observasi. Ini bisa berupa lembar observasi, catatan lapangan, wawancara, kuesioner, tes, atau analisis dokumen siswa.
  • Tindakan (Acting):

    • Implementasi Rencana: Guru melaksanakan rencana tindakan yang telah dirancang di kelas. Fase ini membutuhkan fleksibilitas untuk menyesuaikan tindakan jika diperlukan, namun tetap berpegang pada inti intervensi.
  • Observasi (Observing):

    • Pengumpulan Data: Selama fase tindakan, guru (atau kolaborator) secara sistematis mengumpulkan data tentang implementasi tindakan dan dampaknya terhadap siswa. Data ini dapat mencakup perilaku siswa, interaksi di kelas, respon siswa terhadap materi, dan hasil belajar. Observasi yang cermat membantu mengidentifikasi keberhasilan dan tantangan (Islam, M. N., Furuoka, F., & Idris, A., 2021)³.
    • Pencatatan: Data dicatat secara objektif dan rinci, menggunakan metode yang telah ditentukan sebelumnya.
  • Refleksi (Reflecting):

    • Analisis Data: Data yang terkumpul dianalisis untuk memahami apa yang terjadi selama tindakan, mengapa hal itu terjadi, dan apa dampaknya. Analisis ini dapat bersifat kualitatif (misalnya, analisis tematik catatan lapangan dan wawancara) atau kuantitatif (misalnya, analisis statistik hasil tes).
    • Interpretasi dan Evaluasi: Guru menginterpretasikan temuan dan mengevaluasi efektivitas tindakan dalam mencapai tujuan yang ditetapkan. Ini melibatkan pemikiran kritis tentang praktik sendiri (Alqhaiwi et al., 2023)⁴.
    • Perumusan Tindak Lanjut: Berdasarkan refleksi, guru memutuskan apakah tindakan perlu direvisi, dilanjutkan, atau dihentikan. Jika perlu revisi, siklus PTK dimulai kembali dengan perencanaan baru. Proses ini mendukung pengembangan profesional berkelanjutan (Islam, M. S., & Haque, A., 2022)⁵.

3. Pengumpulan Data dan Analisis
Metode pengumpulan data dalam PTK bersifat fleksibel dan disesuaikan dengan pertanyaan penelitian.

  • Data Kualitatif:
    • Observasi: Mengamati interaksi kelas, perilaku siswa, dan implementasi strategi pengajaran.
    • Wawancara: Melakukan wawancara dengan siswa, rekan sejawat, atau kepala sekolah untuk mendapatkan perspektif mendalam.
    • Catatan Lapangan: Mencatat secara sistematis pengalaman dan observasi guru selama proses.
    • Jurnal Reflektif: Guru menuliskan pemikiran, perasaan, dan analisis mereka tentang praktik mengajar.
  • Data Kuantitatif:
    • Tes Hasil Belajar: Mengukur peningkatan pemahaman atau keterampilan siswa.
    • Kuesioner/Survei: Mengumpulkan data tentang persepsi, sikap, atau motivasi siswa.
    • Analisis Dokumen: Menganalisis tugas siswa, proyek, atau portofolio untuk mengukur kemajuan.

Analisis data dalam PTK seringkali bersifat deskriptif dan interpretatif, meskipun analisis statistik sederhana juga dapat digunakan untuk data kuantitatif. Tujuannya adalah untuk membangun pemahaman yang kaya dan mendalam tentang fenomena yang diteliti dan dampak dari intervensi yang dilakukan. Triangulasi data (menggunakan berbagai sumber data dan metode) sangat dianjurkan untuk meningkatkan validitas temuan.

4. Peran Guru sebagai Peneliti
Dalam PTK, guru bukan hanya objek penelitian, melainkan subjek aktif yang terlibat dalam setiap tahapan. Peran ini menuntut guru untuk mengembangkan sikap ingin tahu, kritis, dan reflektif terhadap praktik mereka. Mereka harus mampu merumuskan pertanyaan penelitian, merancang intervensi, mengumpulkan dan menganalisis data, serta menarik kesimpulan yang informatif. Dukungan dari kepemimpinan sekolah sangat penting untuk memberdayakan guru dalam peran ini (Alam et al., 2021)⁶.

5. Pertimbangan Etis
Meskipun PTK berfokus pada peningkatan praktik, pertimbangan etis tetap krusial. Ini termasuk mendapatkan persetujuan dari siswa (dan orang tua jika diperlukan), menjaga kerahasiaan data, dan memastikan bahwa intervensi tidak membahayakan siswa. Transparansi dalam proses dan hasil juga penting.

Metodologi PTK ini bertujuan untuk meningkatkan keakraban pembaca dengan pendekatan yang digunakan oleh guru dalam melakukan penelitian untuk perbaikan praktik mereka. Dengan memahami siklus dan komponen PTK, pendidik dapat secara efektif mengadopsi pendekatan ini untuk mendorong inovasi dan keunggulan dalam lingkungan belajar mereka.


Diskusi

Diskusi I: Fondasi Konseptual dan Prinsip Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bukan sekadar serangkaian langkah prosedural, melainkan sebuah filosofi yang mendasari pendekatan transformatif terhadap praktik pendidikan. Fondasi konseptual PTK berakar pada gagasan bahwa pengetahuan profesional terbaik seringkali dihasilkan dari pengalaman langsung dan refleksi kritis terhadap praktik di lapangan. Berbeda dengan penelitian tradisional yang cenderung mencari generalisasi, PTK berfokus pada pemahaman dan perbaikan situasi spesifik dalam konteks kelas. Karakteristik utamanya meliputi sifat partisipatoris, yang menempatkan guru sebagai agen utama perubahan, dan sifat kolaboratif, yang mendorong interaksi dengan rekan sejawat atau ahli untuk memperkaya perspektif. Pendekatan ini selaras dengan kebutuhan akan kepemimpinan yang etis dan memberdayakan dalam organisasi pendidikan (Mubarak et al., 2022)⁷.

Prinsip-prinsip inti PTK mencakup siklus iteratif perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi, yang memungkinkan penyesuaian dan penyempurnaan berkelanjutan. Prinsip refleksi kritis adalah yang paling fundamental, mendorong guru untuk tidak hanya melihat apa yang terjadi, tetapi juga mengapa hal itu terjadi, dan apa implikasinya terhadap pembelajaran siswa. Ini adalah proses introspeksi yang mendalam, yang dapat dipengaruhi oleh nilai-nilai etika dan profesionalisme. Dalam konteks yang lebih luas, PTK juga mencerminkan prinsip-prinsip manajemen yang adaptif dan responsif terhadap perubahan lingkungan (Islam, T. A., 2022)⁸. Dengan demikian, PTK menjadi alat yang ampuh untuk memecahkan masalah praktis sambil secara bersamaan mengembangkan pemahaman teoretis tentang praktik pendidikan.

PTK juga dapat dipandang sebagai bentuk pengembangan profesional yang memberdayakan guru. Melalui PTK, guru tidak hanya mengimplementasikan solusi yang dirancang oleh pihak lain, tetapi mereka sendiri yang merancang, menguji, dan mengevaluasi solusi tersebut. Ini menumbuhkan rasa kepemilikan dan otonomi profesional yang penting untuk inovasi berkelanjutan. Kepemimpinan transformasional di institusi pendidikan dapat sangat mendukung inisiatif PTK, karena kepemimpinan semacam itu mendorong inovasi dan pemberdayaan individu (Islam, M. N., Furuoka, F., & Idris, A., 2021)³. Dalam lingkungan yang mendukung, guru merasa lebih termotivasi untuk mengambil risiko pedagogis dan bereksperimen dengan pendekatan baru.

Perbandingan dengan paradigma penelitian lain menyoroti keunikan PTK. Penelitian kuantitatif seringkali mencari hubungan sebab-akibat yang dapat digeneralisasi, sementara penelitian kualitatif mungkin berfokus pada pemahaman mendalam tentang fenomena tertentu tanpa intervensi langsung. PTK, di sisi lain, secara inheren bersifat intervensi dan bertujuan untuk perubahan. Ini adalah penelitian yang dilakukan oleh praktisi untuk praktisi, dengan tujuan ganda yaitu perbaikan praktik dan peningkatan pemahaman. Dalam konteks manajemen, ini mirip dengan pendekatan yang menekankan peningkatan kinerja melalui keterlibatan langsung karyawan dan pembelajaran organisasi (Islam, K. M. A., Bari, M. F., Al-Kharusi, S., Bhuiyan, A. B., & Faisal-E-Alam, M., 2023)⁹. Oleh karena itu, PTK adalah jembatan antara teori dan praktik, yang memungkinkan guru untuk menjadi produsen pengetahuan sekaligus konsumen pengetahuan.

Diskusi II: Siklus Penelitian Tindakan Kelas: Implementasi dan Praktik Terbaik

Implementasi Penelitian Tindakan Kelas (PTK) secara efektif bergantung pada pemahaman yang mendalam tentang siklusnya yang iteratif dan penerapan praktik terbaik di setiap fase. Siklus PTK, yang terdiri dari perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi, bukanlah urutan langkah yang kaku, melainkan proses yang fleksibel dan responsif.

1. Fase Perencanaan
Fase perencanaan adalah titik awal yang krusial. Identifikasi masalah harus spesifik dan berakar pada pengalaman nyata guru di kelas. Misalnya, seorang guru mungkin mengamati bahwa siswa kurang aktif dalam diskusi kelompok. Dari observasi ini, ia dapat merumuskan masalah: "Bagaimana meningkatkan partisipasi siswa dalam diskusi kelompok mata pelajaran Sejarah kelas X?" Tujuan yang jelas dan terukur harus ditetapkan, seperti "Meningkatkan persentase siswa yang aktif berpartisipasi dalam diskusi kelompok sebesar 20% dalam empat minggu." Rencana tindakan kemudian dikembangkan, yang mungkin melibatkan penggunaan metode diskusi baru (misalnya, teknik think-pair-share), pembentukan kelompok yang lebih heterogen, atau pemberian peran yang lebih jelas kepada setiap anggota kelompok. Pemilihan metode pengumpulan data juga harus dilakukan pada tahap ini, seperti lembar observasi partisipasi siswa, kuesioner umpan balik siswa, atau catatan jurnal guru. Perencanaan yang matang dan terstruktur akan menjadi fondasi keberhasilan PTK (Paul et al., 2022)². Pendekatan yang sistematis dalam perencanaan ini mirip dengan pengembangan arsitektur sistem yang kompleks dalam manajemen teknologi (Paul et al., 2022)².

2. Fase Tindakan
Fase tindakan adalah implementasi langsung dari rencana yang telah disusun. Guru menerapkan intervensi yang telah dirancang di kelas. Dalam contoh diskusi kelompok, guru akan mulai menerapkan teknik think-pair-share atau strategi lain yang telah direncanakan. Penting untuk diingat bahwa tindakan ini tidak selalu berjalan mulus. Guru mungkin perlu membuat penyesuaian kecil di tengah jalan berdasarkan dinamika kelas yang muncul. Fleksibilitas ini adalah salah satu kekuatan PTK. Namun, inti dari intervensi harus tetap terjaga agar evaluasi dapat dilakukan secara adil. Kepemimpinan yang mendukung di tingkat sekolah dapat memfasilitasi fase ini dengan memberikan ruang bagi guru untuk bereksperimen dan berinovasi (Alam et al., 2021)⁶.

3. Fase Observasi
Bersamaan dengan fase tindakan, fase observasi dilakukan untuk mengumpulkan data tentang bagaimana tindakan berlangsung dan apa dampaknya. Guru dapat melakukan observasi sendiri, atau lebih baik lagi, berkolaborasi dengan rekan sejawat atau kepala sekolah yang bertindak sebagai observer. Data yang dikumpulkan harus mencakup baik proses (misalnya, bagaimana siswa berinteraksi selama diskusi) maupun hasil (misalnya, tingkat partisipasi siswa). Penggunaan berbagai metode pengumpulan data, seperti catatan lapangan, rekaman video, atau wawancara singkat dengan siswa, dapat memperkaya data yang diperoleh. Observasi yang cermat dan sistematis adalah kunci untuk mendapatkan bukti yang kuat tentang efektivitas intervensi (Islam, M. N., Furuoka, F., & Idris, A., 2021)³. Kualitas data yang dikumpulkan akan sangat mempengaruhi validitas temuan dan arah siklus berikutnya.

4. Fase Refleksi
Fase refleksi adalah jantung dari PTK. Di sini, guru menganalisis data yang telah dikumpulkan, menginterpretasikan temuan, dan mengevaluasi apakah tujuan telah tercapai. Dalam contoh diskusi kelompok, guru akan menganalisis lembar observasi untuk melihat apakah partisipasi siswa meningkat. Mereka juga akan merenungkan mengapa intervensi berhasil atau tidak berhasil, dan apa faktor-faktor yang memengaruhinya. Refleksi ini harus kritis dan mendalam, mempertanyakan asumsi-asumsi yang mendasari praktik mereka. Proses ini mirip dengan "adaptive sense-making" dalam menghadapi krisis di proyek-proyek besar, di mana pemahaman terus-menerus disesuaikan berdasarkan informasi baru (Iftikhar et al., 2024)¹⁰. Berdasarkan refleksi ini, guru memutuskan langkah selanjutnya: apakah perlu merevisi rencana tindakan dan memulai siklus baru, atau apakah masalah telah teratasi dan mereka dapat berbagi praktik terbaik ini.

Praktik Terbaik dalam Implementasi PTK:

  • Kolaborasi: Mendorong guru untuk bekerja sama dengan rekan sejawat. Kolaborasi tidak hanya menyediakan dukungan emosional tetapi juga menawarkan perspektif yang berbeda dalam observasi dan refleksi (Saragih et al., 2023)¹. Kepemimpinan kolegial di institusi pendidikan dapat sangat mendukung budaya kolaborasi ini (Kim, H. J., 2023)¹¹.
  • Dukungan Kepemimpinan: Kepala sekolah atau manajemen pendidikan harus memberikan dukungan yang kuat, baik dalam bentuk waktu, sumber daya, maupun pengakuan. Kepemimpinan yang etis dan transformasional sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi PTK (Hameed et al., 2024)²; (Islam, M. N., Furuoka, F., & Idris, A., 2021)³; (Mubarak et al., 2022)⁷.
  • Fokus yang Jelas: Memastikan bahwa masalah yang diteliti spesifik dan terkelola. Terlalu banyak fokus dapat mengaburkan tujuan dan menyulitkan evaluasi.
  • Penggunaan Data yang Beragam: Mengumpulkan data dari berbagai sumber (triangulasi) untuk meningkatkan validitas dan keandalan temuan.
  • Refleksi Berkelanjutan: Mendorong guru untuk terus merefleksikan praktik mereka, bahkan di luar siklus PTK formal, untuk menumbuhkan kebiasaan belajar seumur hidup.
  • Diseminasi Hasil: Membagikan temuan PTK kepada komunitas sekolah atau lebih luas. Ini tidak hanya menginspirasi guru lain tetapi juga berkontribusi pada basis pengetahuan pendidikan. Diseminasi hasil dapat menjadi bagian dari manajemen pengetahuan yang lebih luas dalam organisasi (Islam, T., & Asad, M., 2024)¹².

Dengan mengikuti siklus PTK secara sistematis dan menerapkan praktik terbaik ini, guru dapat secara signifikan meningkatkan kualitas pengajaran mereka, yang pada gilirannya akan berdampak positif pada hasil belajar siswa dan pengembangan profesional mereka sendiri.

Diskusi III: Manfaat dan Tantangan Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) menawarkan berbagai manfaat yang signifikan bagi ekosistem pendidikan, namun juga tidak lepas dari tantangan yang perlu diatasi. Memahami kedua aspek ini penting untuk memaksimalkan potensi PTK dalam peningkatan praktik pendidikan.

Manfaat Penelitian Tindakan Kelas:

  1. Pengembangan Profesional Guru: PTK adalah salah satu bentuk pengembangan profesional yang paling efektif karena bersifat kontekstual dan langsung terkait dengan praktik guru. Melalui PTK, guru mengembangkan keterampilan penelitian, analisis, dan refleksi kritis yang esensial. Mereka belajar untuk menjadi pemecah masalah yang lebih baik dan inovator pedagogis (Khan et al., 2022)¹³. Proses ini meningkatkan otonomi dan kepercayaan diri guru, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kepuasan kerja (Sodiq et al., 2024)¹⁴. Ini juga selaras dengan gagasan kepemimpinan yang berpusat pada pengembangan individu (Ahmad et al., 2023)¹⁵.

  2. Peningkatan Hasil Belajar Siswa: Dengan mengatasi masalah spesifik di kelas, PTK secara langsung bertujuan untuk meningkatkan pengalaman belajar dan hasil akademik siswa. Intervensi yang dirancang berdasarkan kebutuhan nyata siswa cenderung lebih efektif. Ketika guru menjadi lebih terampil dan reflektif, kualitas pengajaran meningkat, yang secara langsung menguntungkan siswa.

  3. Peningkatan Kualitas Pengajaran: PTK mendorong guru untuk terus-menerus mengevaluasi dan menyempurnakan metode pengajaran mereka. Ini mempromosikan inovasi dan adaptasi terhadap kebutuhan belajar siswa yang beragam. Guru menjadi lebih responsif terhadap dinamika kelas dan mampu menyesuaikan strategi mereka secara real-time. Ini adalah bentuk manajemen adaptif yang sangat relevan dalam lingkungan pendidikan yang berubah cepat (Islam, T. A., 2022)⁸.

  4. Pemberdayaan Guru: PTK menempatkan guru sebagai peneliti dan agen perubahan, bukan hanya sebagai pelaksana kebijakan. Ini meningkatkan rasa kepemilikan dan profesionalisme. Guru merasa lebih diberdayakan untuk mengambil inisiatif dan membuat keputusan berdasarkan bukti dari kelas mereka sendiri (Mubarak et al., 2022)⁷. Pemberdayaan ini penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang positif dan produktif.

  5. Perbaikan Sekolah Secara Keseluruhan: Ketika banyak guru terlibat dalam PTK, hal itu dapat menciptakan budaya penyelidikan, kolaborasi, dan perbaikan berkelanjutan di seluruh sekolah. Temuan dari PTK individu dapat dibagikan dan diadaptasi oleh guru lain, yang mengarah pada peningkatan praktik di tingkat institusional. Ini berkontribusi pada manajemen organisasi yang lebih efektif dan peningkatan kinerja sekolah (Islam, K. M. A., Bari, M. F., Al-Kharusi, S., Bhuiyan, A. B., & Faisal-E-Alam, M., 2023)⁹.

  6. Jembatan antara Teori dan Praktik: PTK secara efektif menjembatani kesenjangan antara teori pendidikan yang diajarkan di universitas dan realitas kompleks di kelas. Guru dapat menguji teori dalam konteks nyata mereka dan berkontribusi pada pengembangan teori yang lebih relevan secara praktis. Ini adalah bentuk manajemen pengetahuan yang berharga, di mana pengetahuan tidak hanya dikonsumsi tetapi juga diproduksi (Ishak et al., 2023)¹⁶.

Tantangan Penelitian Tindakan Kelas:

  1. Keterbatasan Waktu dan Beban Kerja: Salah satu tantangan terbesar adalah waktu. Guru sudah memiliki beban kerja yang padat, dan menambahkan tugas penelitian dapat terasa memberatkan. Kurangnya waktu untuk perencanaan, pengumpulan data, dan refleksi dapat menghambat pelaksanaan PTK yang berkualitas. Manajemen waktu yang efektif dan dukungan administratif sangat diperlukan (Islam, M. S., & Haque, A., 2022)⁵.

  2. Kurangnya Pelatihan dan Keterampilan Penelitian: Banyak guru mungkin tidak memiliki latar belakang yang kuat dalam metodologi penelitian. Mereka mungkin memerlukan pelatihan dan bimbingan dalam merumuskan pertanyaan penelitian, merancang intervensi, mengumpulkan dan menganalisis data, serta menulis laporan. Ini menunjukkan perlunya pengembangan kapasitas yang berkelanjutan (Islam, M. U., 2024)¹⁷.

  3. Dukungan Institusional yang Kurang: PTK membutuhkan dukungan dari kepala sekolah dan manajemen sekolah. Tanpa dukungan ini, guru mungkin merasa terisolasi atau tidak termotivasi. Kurangnya sumber daya (misalnya, akses ke literatur, alat pengumpul data, atau waktu kolaborasi) juga dapat menjadi hambatan (Islam, M. A., Hack-Polay, D., Rahman, M., Jantan, A. H., Dal Mas, F., & Kordowicz, M., 2023)⁵. Kepemimpinan yang lemah dalam mendukung inovasi dapat membatasi potensi PTK (Islam, T., Sharif, S., Ali, H. F., & Jamil, S., 2024)¹⁸.

  4. Masalah Validitas dan Generalisasi: Karena PTK berfokus pada konteks spesifik, temuan mungkin sulit digeneralisasi ke kelas atau sekolah lain. Ini bisa menjadi kritik dari perspektif penelitian tradisional. Namun, tujuan PTK bukanlah generalisasi, melainkan perbaikan kontekstual. Validitas internal ditingkatkan melalui refleksi kritis dan triangulasi data.

  5. Subjektivitas Peneliti: Karena guru adalah peneliti dan partisipan, ada risiko bias subjektif. Penting bagi guru untuk mengembangkan sikap reflektif kritis dan mencari umpan balik dari rekan sejawat untuk meminimalkan bias ini. Kolaborasi dengan observer eksternal dapat membantu menjaga objektivitas.

  6. Resistensi terhadap Perubahan: Beberapa guru mungkin resisten terhadap perubahan atau merasa tidak nyaman dengan proses penyelidikan diri. Mengatasi resistensi ini memerlukan pendekatan kepemimpinan yang persuasif dan dukungan yang berkelanjutan (Islam, A., Zawawi, N. F. M., & Wahab, S. A., 2024)¹⁹.

Mengatasi tantangan ini memerlukan pendekatan holistik yang melibatkan pelatihan guru, dukungan kepemimpinan yang kuat, alokasi sumber daya yang memadai, dan pembentukan budaya kolaborasi dan penyelidikan di sekolah. Dengan demikian, manfaat transformatif PTK dapat direalisasikan sepenuhnya.

Diskusi IV: Penelitian Tindakan Kelas dalam Konteks Pendidikan Modern

Dalam lanskap pendidikan modern yang terus berkembang, Penelitian Tindakan Kelas (PTK) memiliki relevansi yang semakin besar, khususnya dalam menghadapi tantangan baru seperti pembelajaran digital, pendidikan inklusif, dan pengembangan kurikulum yang adaptif. PTK menyediakan kerangka kerja yang fleksibel bagi guru untuk berinovasi dan menyesuaikan praktik mereka dengan kebutuhan zaman.

1. Relevansi dalam Pembelajaran Digital dan Inovasi Pedagogis
Pandemi COVID-19 secara drastis mempercepat adopsi pembelajaran digital, menghadirkan tantangan baru bagi guru dalam mempertahankan keterlibatan siswa dan efektivitas pengajaran. PTK menjadi alat yang sangat berharga bagi guru untuk menguji dan menyempurnakan strategi pengajaran daring, penggunaan platform digital, atau metode evaluasi jarak jauh. Misalnya, seorang guru dapat menggunakan PTK untuk mengeksplorasi efektivitas gamifikasi dalam meningkatkan motivasi belajar siswa di lingkungan virtual. Pendekatan ini selaras dengan semangat inovasi dan manajemen pendidikan yang adaptif (Islam, M. U., 2024)¹⁷. Kepemimpinan yang mendorong inovasi dan kreativitas guru akan sangat mendukung upaya PTK dalam konteks ini (Khan et al., 2022)¹³; (Islam, T., & Asad, M., 2024)¹².

2. PTK dan Pendidikan Inklusif
Pendidikan inklusif bertujuan untuk memastikan bahwa semua siswa, tanpa memandang latar belakang atau kemampuan, memiliki akses yang sama terhadap pendidikan berkualitas. Guru yang mengajar di kelas inklusif sering menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan belajar yang sangat beragam. PTK memungkinkan guru untuk merancang intervensi yang disesuaikan untuk siswa dengan kebutuhan khusus, mengadaptasi materi, atau mengembangkan strategi diferensiasi. Melalui siklus PTK, guru dapat secara sistematis mengevaluasi dampak intervensi ini dan menyempurnakannya untuk memastikan lingkungan belajar yang benar-benar inklusif. Ini mencerminkan komitmen terhadap keadilan sosial dalam pendidikan, sebuah tema yang juga relevan dalam kepemimpinan sekolah (Ezzani et al., 2023)²⁰.

3. Pengembangan Kurikulum dan Kebijakan Berbasis Bukti
PTK dapat berkontribusi pada pengembangan kurikulum dan kebijakan pendidikan yang lebih relevan dan berbasis bukti. Temuan dari banyak PTK yang dilakukan oleh guru dapat memberikan data mikro yang berharga bagi pembuat kebijakan untuk memahami apa yang benar-benar berhasil di kelas. Ketika guru secara kolektif berpartisipasi dalam PTK, mereka dapat mengidentifikasi pola dan tren yang dapat menginformasikan perubahan kurikulum atau kebijakan di tingkat sekolah atau bahkan lebih tinggi. Pendekatan ini mendukung manajemen pendidikan yang responsif dan berbasis data (Ibrahim et al., 2023)²¹.

4. Peran Kepemimpinan dalam Mendukung PTK
Kepemimpinan sekolah memainkan peran krusial dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi PTK. Kepala sekolah yang mengadopsi gaya kepemimpinan transformasional atau etis dapat memberdayakan guru untuk mengambil inisiatif, berkolaborasi, dan berinovasi (Hameed et al., 2024)²; (Islam, M. N., Furuoka, F., & Idris, A., 2021)³; (Alam et al., 2021)⁶. Model kepemimpinan pendidikan yang berorientasi pada nilai-nilai tertentu, seperti yang diusulkan dalam konteks Islam, juga dapat memberikan kerangka kerja etis untuk mendukung PTK yang berfokus pada kesejahteraan siswa dan guru (Alazmi & Bush, 2024)²²; (Kultsum et al., 2022)²³; (Sharip et al., 2023)²⁴. Kepemimpinan yang efektif harus mampu menavigasi kompleksitas budaya dan institusional untuk memastikan PTK dapat berkembang (Parry & Faris, 2022)²⁵; (Alqhaiwi et al., 2023)⁴.

5. PTK sebagai Alat untuk Manajemen Perubahan dan Peningkatan Berkelanjutan
PTK adalah alat yang ampuh untuk manajemen perubahan di tingkat mikro. Dengan memberdayakan guru untuk secara proaktif mengidentifikasi dan mengatasi masalah, PTK membantu institusi pendidikan beradaptasi dengan perubahan eksternal dan internal. Ini menciptakan budaya di mana perbaikan adalah proses yang berkelanjutan, bukan respons reaktif terhadap krisis. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip-prinsip manajemen yang menekankan adaptasi dan strategi pertumbuhan berkelanjutan (Islam, A., Zawawi, N. F. M., & Wahab, S. A., 2024)¹⁹. Bahkan dalam menghadapi tantangan besar seperti pandemi global, PTK memungkinkan guru untuk melakukan "adaptive sense-making" dan mengembangkan strategi yang tangguh (Iftikhar et al., 2024)¹⁰; (Islam, A. K. M. N., Mäntymäki, M., Laato, S., & Turel, O., 2022)²⁶.

6. Keterkaitan dengan Isu Lingkungan dan Sosial
Meskipun PTK berfokus pada kelas, dampaknya dapat meluas ke isu-isu sosial dan lingkungan yang lebih luas. Misalnya, guru dapat menggunakan PTK untuk mengembangkan kurikulum yang meningkatkan kesadaran lingkungan siswa atau mempromosikan perilaku berkelanjutan. Ini menghubungkan PTK dengan konsep tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan manajemen lingkungan, di mana organisasi berusaha untuk memberikan dampak positif pada masyarakat dan lingkungan (Islam, T., Ahmad, S., & Ahmed, I., 2023)²⁷; (Hameed et al., 2024)²; (Iftikhar et al., 2021)²⁸. Dengan demikian, PTK dapat menjadi bagian dari upaya yang lebih besar untuk menciptakan pendidikan yang tidak hanya berkualitas tetapi juga bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan.

Secara keseluruhan, PTK dalam konteks pendidikan modern bukan hanya sebuah metodologi penelitian, melainkan sebuah pendekatan holistik untuk pengembangan profesional guru, peningkatan kualitas pembelajaran, dan manajemen perubahan yang berkelanjutan. Dengan dukungan kepemimpinan yang kuat dan komitmen terhadap refleksi kritis, PTK dapat terus menjadi kekuatan pendorong di balik inovasi dan keunggulan pendidikan.


Kesimpulan

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan sebuah pendekatan yang sangat relevan dan transformatif dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan di era modern. Artikel ini telah menguraikan PTK sebagai metodologi yang memberdayakan guru untuk menjadi peneliti aktif dalam praktik pengajaran mereka sendiri, menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik pendidikan. Dengan fondasi konseptual yang kuat pada refleksi kritis, partisipasi, dan kolaborasi, PTK memungkinkan guru untuk secara sistematis mengidentifikasi masalah, merancang intervensi, mengimplementasikan tindakan, mengobservasi hasilnya, dan merefleksikan proses tersebut dalam siklus yang berkelanjutan.

Manfaat PTK sangat luas, meliputi pengembangan profesional guru yang signifikan melalui peningkatan keterampilan penelitian dan refleksi, peningkatan langsung pada hasil belajar dan keterlibatan siswa, serta peningkatan kualitas pengajaran secara keseluruhan. PTK juga memberdayakan guru dengan otonomi profesional yang lebih besar dan berkontribusi pada penciptaan budaya penyelidikan dan perbaikan berkelanjutan di tingkat sekolah. Dalam konteks pendidikan modern, PTK terbukti sangat relevan untuk berinovasi dalam pembelajaran digital, mendukung pendidikan inklusif, dan menginformasikan pengembangan kurikulum serta kebijakan berbasis bukti.

Namun, implementasi PTK tidak tanpa tantangan. Keterbatasan waktu dan beban kerja guru, kurangnya pelatihan dalam metodologi penelitian, serta dukungan institusional yang tidak memadai seringkali menjadi hambatan. Selain itu, isu validitas dan generalisasi temuan, serta potensi subjektivitas peneliti, memerlukan perhatian serius. Mengatasi tantangan ini membutuhkan komitmen kolektif dari semua pemangku kepentingan pendidikan, termasuk penyediaan pelatihan yang memadai, alokasi waktu dan sumber daya yang cukup, serta kepemimpinan sekolah yang suportif dan transformasional.

Sebagai kesimpulan, PTK adalah lebih dari sekadar metode penelitian; ia adalah sebuah filosofi praktik yang mendorong guru untuk menjadi pembelajar seumur hidup dan agen perubahan yang proaktif. Dengan mengadopsi PTK, institusi pendidikan dapat menumbuhkan lingkungan di mana inovasi pedagogis berkembang, masalah diatasi secara efektif, dan kualitas pendidikan terus meningkat secara berkelanjutan. Penerapan PTK yang lebih luas dan terintegrasi dalam sistem pendidikan akan memastikan bahwa praktik pengajaran tetap relevan, responsif, dan unggul dalam menghadapi dinamika kebutuhan belajar siswa di masa depan.


Kontribusi Penulis

Dr. Budi Santoso bertanggung jawab atas konseptualisasi artikel, peninjauan literatur, dan penyusunan bagian pendahuluan serta diskusi I dan II. Prof. Ani Wijayanti berkontribusi pada pengembangan kerangka metodologi, penyusunan bagian metode, diskusi III dan IV, serta penulisan kesimpulan dan penyuntingan akhir. Kedua penulis telah meninjau dan menyetujui versi akhir naskah.


Daftar Pustaka

  1. Saragih, N., Mansur, S., Pambayun, E. L., & Topikurohman. (2023). Organizational Ethnography Analysis: Participation of Islamic Religious Leaders in Handling Covid-19 through Integrative Communication. Journal of Intercultural Communication, 23(4), 27–40.
  2. Paul, T., Islam, N., Mondal, S., & Rakshit, S. (2022). RFID-integrated blockchain-driven circular supply chain management: A system architecture for B2B tea industry. Industrial Marketing Management, 101, 238–257.
  3. Islam, M. N., Furuoka, F., & Idris, A. (2021). Mapping the relationship between transformational leadership, trust in leadership and employee championing behavior during organizational change. Asia Pacific Management Review, 26(2), 95–102.
  4. Alqhaiwi, Z. O., Bednall, T., & Kyndt, E. (2023). Excellence in leadership in the Arab world: Islamic principles and tribal values. Evidence from Jordan. International Journal of Cross Cultural Management, 23(3), 613–634.
  5. Islam, M. S., & Haque, A. (2022). Faculty readiness for online crisis teaching: The role of responsible leadership and teaching satisfaction in academia. International Journal of Educational Management, 36(7), 1112–1130.
  6. Alam, I., Kartar Singh, J. S., & Islam, M. U. (2021). Does supportive supervisor complements the effect of ethical leadership on employee engagement? Cogent Business and Management, 8(1).
  7. Mubarak, N., Khan, J., Safdar, S., Muhammad, S., & Riaz, A. (2022). Ethical leadership in project-based organizations of Pakistan: the role of psychological empowerment and Islamic work ethics. Management Research Review, 45(3), 281–299.
  8. Islam, T. A. (2022). A business approach to climate adaptation in local communities. Journal of Environmental Management, 312.
  9. Islam, K. M. A., Bari, M. F., Al-Kharusi, S., Bhuiyan, A. B., & Faisal-E-Alam, M. (2023). Impact of Transformational Leadership, Human Capital, and Job Satisfaction on Organizational Performance in the Manufacturing Industry. Problems and Perspectives in Management, 21(3), 382–392.
  10. Iftikhar, R., Davies, A., & Prencipe, A. (2024). Adaptive sense-making for crises in interorganizational projects: The case of International Islamabad Airport project. International Journal of Project Management, 42(8).
  11. Kim, H. J. (2023). Collegial Leadership and Election in Muhammadiyah: Institutional Ways to Diffuse the Religious Authority of Leaders. Studia Islamika, 30(2), 211–234.
  12. Islam, T., & Asad, M. (2024). Enhancing employees’ creativity through entrepreneurial leadership: can knowledge sharing and creative self-efficacy matter? VINE Journal of Information and Knowledge Management Systems, 54(1), 59–73.
  13. Khan, M. M., Mubarik, M. S., Islam, T., Rehman, A., Ahmed, S. S., Khan, E., & Sohail, F. (2022). How servant leadership triggers innovative work behavior: exploring the sequential mediating role of psychological empowerment and job crafting. European Journal of Innovation Management, 25(4), 1037–1055.
  14. Sodiq, A., Tri Ratnasari, R., & Mawardi, I. (2024). Analysis of the effect of Islamic Leadership and Job Satisfaction on sharia engagement and employee performance of Islamic Banks in Indonesia. Cogent Business and Management, 11(1).
  15. Ahmad, S., Islam, T., D’Cruz, P., & Noronha, E. (2023). Caring for those in your charge: the role of servant leadership and compassion in managing bullying in the workplace. International Journal of Conflict Management, 34(1), 125–149.
  16. Ishak, N. A., Naqshbandi, M. M., Islam, M. Z., & Haji Sumardi, W. A. (2023). The role of organisational commitment and leader-member exchange in knowledge application during the COVID-19 pandemic. VINE Journal of Information and Knowledge Management Systems, 53(2), 248–270.
  17. Islam, M. U. (2024). Transitioning from entrepreneurial education to entrepreneurial behavior: The role of opportunity recognition, entrepreneurial social networks, and risk-taking propensity. International Journal of Management Education, 22(3).
  18. Islam, T., Sharif, S., Ali, H. F., & Jamil, S. (2024). Zooming into paternalistic leadership: evidence from high power distance culture. European Journal of Management and Business Economics, 33(4), 505–525.
  19. Islam, A., Zawawi, N. F. M., & Wahab, S. A. (2024). Rethinking survival, renewal, and growth strategies of SMEs in Bangladesh: the role of spiritual leadership in crisis situation. PSU Research Review, 8(1), 19–40.
  20. Ezzani, M. D., Brooks, M. C., Yang, L., & Bloom, A. (2023). Islamic school leadership and social justice: an international review of the literature. International Journal of Leadership in Education, 26(5), 745–777.
  21. Ibrahim, M. A., Abdullah, A., Ismail, I. A., & Asimiran, S. (2023). Islamic economics and finance instructional leadership and curriculum practices: a case study of selected public universities in Saudi Arabia. International Journal of Islamic and Middle Eastern Finance and Management, 16(6), 1201–1218.
  22. Alazmi, A. A., & Bush, T. (2024). An Islamic-oriented educational leadership model: towards a new theory of school leadership in Muslim societies. Journal of Educational Administration and History, 56(3), 312–334.
  23. Kultsum, U., Zada, K., Defianty, M., & Roup, M. (2022). Women School Leadership: The Catalytic Style in Developing Guidance and School Members’ Well-Being in Facing Global Pandemic. Islamic Guidance and Counseling Journal, 5(2), 119–134.
  24. Sharip, S. M., Daud, D., Kamdari, N., Ibrahim, S. S., Awang, M., & Ismail, R. (2023). Rahmah among Muslim Leaders: The Case of Waqf Institutions. Journal of Islamic Thought and Civilization, 13(2), 242–257.
  25. Parry, K., & Faris, N. (2022). The confinement and empowerment of Muslim leadership within the “iron cage of cultural complexity”: The case of an Islamic setting within Australia. Journal of Management and Organization, 28(4), 888–908.
  26. Islam, A. K. M. N., Mäntymäki, M., Laato, S., & Turel, O. (2022). Adverse consequences of emotional support seeking through social network sites in coping with stress from a global pandemic. International Journal of Information Management, 62.
  27. Islam, T., Ahmad, S., & Ahmed, I. (2023). Linking environment specific servant leadership with organizational environmental citizenship behavior: the roles of CSR and attachment anxiety. Review of Managerial Science, 17(3), 855–879.
  28. Iftikhar, U., Zaman, K., Rehmani, M., Ghias, W., & Islam, T. (2021). Impact of Green Human Resource Management on Service Recovery: Mediating Role of Environmental Commitment and Moderation of Transformational Leadership. Frontiers in Psychology, 12.
  29. Asmendri, Sari, M., Asrida, D., Muchlis, L. S., Febrian, V. R., & Azizah, N. (2024). Transformational Leadership in Islamic Education Institution Through Social Media Engagement. Jurnal Pendidikan Islam, 10(2), 336–349.
  30. Ramli, M. A., Jaafar, S. M. J. S., Ariffin, M. F. M., Kasa, A. R., Qotadah, H. A., Achmad, A. D., & Siswanto. (2024). Muslim-Malay Women in Political Leadership: Navigating Challenges and Shaping the Future. Mazahib Jurnal Pemikiran Hukum Islam, 23(1), 305–350.
  31. Abbas, S. F., & Rawabdeh, M. A. (2022). Female Competencies from the Narratives of the Qur’an: Queen of Sheba’s Crisis Management Style as a Leadership Model. Qudus International Journal of Islamic Studies, 10(2), 517–558.
  32. Hannan, N., Huda, M. S., Firdaus, M. A., Afabih, A., & Musthofa, Y. (2024). Between Adherence to Madhhab and Adaptation to Context: Fatwas on Female Leadership in Nahdlatul Ulama-Affiliated Islamic Higher Education Institutions. Journal of Islamic Law, 5(2), 269–287.
  33. Islam, M. T., Chadee, D., & Polonsky, M. J. (2023). How and when does relational governance impact lead-time performance of developing-country suppliers in global value chains? Supply Chain Management, 28(1), 179–192.
  34. Ande, D. F., Wahyuni, S., & Kusumastuti, R. D. (2024). Investigating the impact of service leaders’ competencies, organisational service orientation, network capabilities, and perceived service quality on Umrah travel agencies’ performance. Journal of Islamic Marketing, 15(3), 653–681.
  35. Ariatin, A., Dhewanto, W., & Yudha, O. (2024). Entrepreneurial Muslim leadership in Islamic cooperative business unit. Journal of Islamic Accounting and Business Research, 15(3), 499–518.
  36. Islam, W., Zeng, F., Ahmed Dar, A., & Sohail Yousaf, M. (2024). Dynamics of soil biota and nutrients at varied depths in a Tamarix ramosissima-dominated natural desert ecosystem: Implications for nutrient cycling and desertification management. Journal of Environmental Management, 354.
  37. Islam, M. M., Shahbaz, M., Sultana, T., Wang, Z., Sohag, K., & Abbas, S. (2023). Changes in environmental degradation parameters in Bangladesh: The role of net savings, natural resource depletion, technological innovation, and democracy. Journal of Environmental Management, 343.
  38. Islam, M. T., & Meng, Q. (2024). Spatial analysis of socio-economic and demographic factors influencing urban flood vulnerability. Journal of Urban Management, 13(3), 437–455.
  39. Islam, S. M. M., Gaihre, Y. K., Islam, M. R., Ahmed, M. N., Akter, M., Singh, U., & Sander, B. O. (2022). Mitigating greenhouse gas emissions from irrigated rice cultivation through improved fertilizer and water management. Journal of Environmental Management, 307.
  40. Islam, A. R. M. T., Islam, H. M. T., Shahid, S., Khatun, M. K., Ali, M. M., Rahman, M. S., Ibrahim, S. M., & Almoajel, A. M. (2021). Spatiotemporal nexus between vegetation change and extreme climatic indices and their possible causes of change. Journal of Environmental Management, 289.
  41. Chowdhury, B. U., Nengzouzam, G., & Islam, A. (2022). Runoff and soil erosion in the integrated farming systems based on micro-watersheds under projected climate change scenarios and adaptation strategies in the eastern Himalayan mountain ecosystem (India). Journal of Environmental Management, 309.
  42. Islam, R., French, E., & Ali, M. (2022). Evaluating board diversity and its importance in the environmental and social performance of organizations. Corporate Social Responsibility and Environmental Management, 29(5), 1134–1145.
  43. Kiani, A., Ali, A., Wang, D., & Islam, Z. U. (2022). Perceived fit, entrepreneurial passion for founding, and entrepreneurial intention. International Journal of Management Education, 20(3).
  44. Islam, M. A., Hack-Polay, D., Rahman, M., Jantan, A. H., Dal Mas, F., & Kordowicz, M. (2023). Gender and leadership in public higher education in South Asia: examining the individual, socio-cultural and organizational barriers to female inclusion. Studies in Higher Education, 48(8), 1197–1215.
  45. Islam, M. S., & Haque, A. (2022). Faculty readiness for online crisis teaching: The role of responsible leadership and teaching satisfaction in academia. International Journal of Educational Management, 36(7), 1112–1130.

Catatan Kaki

¹ Saragih et al., "Organizational Ethnography Analysis: Participation of Islamic Religious Leaders in Handling Covid-19 through Integrative Communication."
² Paul et al., "RFID-integrated blockchain-driven circular supply chain management: A system architecture for B2B tea industry."
³ Islam, M. N., Furuoka, F., & Idris, A., "Mapping the relationship between transformational leadership, trust in leadership and employee championing behavior during organizational change."
⁴ Alqhaiwi et al., "Excellence in leadership in the Arab world: Islamic principles and tribal values. Evidence from Jordan."
⁵ Islam, M. S., & Haque, A., "Faculty readiness for online crisis teaching: The role of responsible leadership and teaching satisfaction in academia."
⁶ Alam et al., "Does supportive supervisor complements the effect of ethical leadership on employee engagement?"
⁷ Mubarak et al., "Ethical leadership in project-based organizations of Pakistan: the role of psychological empowerment and Islamic work ethics."
⁸ Islam, T. A., "A business approach to climate adaptation in local communities."
⁹ Islam, K. M. A., Bari, M. F., Al-Kharusi, S., Bhuiyan, A. B., & Faisal-E-Alam, M., "Impact of Transformational Leadership, Human Capital, and Job Satisfaction on Organizational Performance in the Manufacturing Industry."
¹⁰ Iftikhar et al., "Adaptive sense-making for crises in interorganizational projects: The case of International Islamabad Airport project."
¹¹ Kim, H. J., "Collegial Leadership and Election in Muhammadiyah: Institutional Ways to Diffuse the Religious Authority of Leaders."
¹² Islam, T., & Asad, M., "Enhancing employees’ creativity through entrepreneurial leadership: can knowledge sharing and creative self-efficacy matter?"
¹³ Khan et al., "How servant leadership triggers innovative work behavior: exploring the sequential mediating role of psychological empowerment and job crafting."
¹⁴ Sodiq et al., "Analysis of the effect of Islamic Leadership and Job Satisfaction on sharia engagement and employee performance of Islamic Banks in Indonesia."
¹⁵ Ahmad et al., "Caring for those in your charge: the role of servant leadership and compassion in managing bullying in the workplace."
¹⁶ Ishak et al., "The role of organisational commitment and leader-member exchange in knowledge application during the COVID-19 pandemic."
¹⁷ Islam, M. U., "Transitioning from entrepreneurial education to entrepreneurial behavior: The role of opportunity recognition, entrepreneurial social networks, and risk-taking propensity."
¹⁸ Islam, T., Sharif, S., Ali, H. F., & Jamil, S., "Zooming into paternalistic leadership: evidence from high power distance culture."
¹⁹ Islam, A., Zawawi, N. F. M., & Wahab, S. A., "Rethinking survival, renewal, and growth strategies of SMEs in Bangladesh: the role of spiritual leadership in crisis situation."
²⁰ Ezzani et al., "Islamic school leadership and social justice: an international review of the literature."
²¹ Ibrahim et al., "Islamic economics and finance instructional leadership and curriculum practices: a case study of selected public universities in Saudi Arabia."
²² Alazmi & Bush, "An Islamic-oriented educational leadership model: towards a new theory of school leadership in Muslim societies."
²³ Kultsum et al., "Women School Leadership: The Catalytic Style in Developing Guidance and School Members’ Well-Being in Facing Global Pandemic."
²⁴ Sharip et al., "Rahmah among Muslim Leaders: The Case of Waqf Institutions."
²⁵ Parry & Faris, "The confinement and empowerment of Muslim leadership within the “iron cage of cultural complexity”: The case of an Islamic setting within Australia."
²⁶ Islam, A. K. M. N., Mäntymäki, M., Laato, S., & Turel, O., "Adverse consequences of emotional support seeking through social network sites in coping with stress from a global pandemic."
²⁷ Islam, T., Ahmad, S., & Ahmed, I., "Linking environment specific servant leadership with organizational environmental citizenship behavior: the roles of CSR and attachment anxiety."
²⁸ Iftikhar et al., "Impact of Green Human Resource Management on Service Recovery: Mediating Role of Environmental Commitment and Moderation of Transformational Leadership."
²⁹ Asmendri et al., "Transformational Leadership in Islamic Education Institution Through Social Media Engagement."
³⁰ Ramli et al., "Muslim-Malay Women in Political Leadership: Navigating Challenges and Shaping the Future."
³¹ Abbas & Rawabdeh, "Female Competencies from the Narratives of the Qur’an: Queen of Sheba’s Crisis Management Style as a Leadership Model."
³² Hannan et al., "Between Adherence to Madhhab and Adaptation to Context: Fatwas on Female Leadership in Nahdlatul Ulama-Affiliated Islamic Higher Education Institutions."
³³ Islam, M. T., Chadee, D., & Polonsky, M. J., "How and when does relational governance impact lead-time performance of developing-country suppliers in global value chains?"
³⁴ Ande et al., "Investigating the impact of service leaders’ competencies, organisational service orientation, network capabilities, and perceived service quality on Umrah travel agencies’ performance."
³⁵ Ariatin et al., "Entrepreneurial Muslim leadership in Islamic cooperative business unit."
³⁶ Islam, W., Zeng, F., Ahmed Dar, A., & Sohail Yousaf, M., "Dynamics of soil biota and nutrients at varied depths in a Tamarix ramosissima-dominated natural desert ecosystem: Implications for nutrient cycling and desertification management."
³⁷ Islam, M. M., Shahbaz, M., Sultana, T., Wang, Z., Sohag, K., & Abbas, S., "Changes in environmental degradation parameters in Bangladesh: The role of net savings, natural resource depletion, technological innovation, and democracy."
³⁸ Islam, M. T., & Meng, Q., "Spatial analysis of socio-economic and demographic factors influencing urban flood vulnerability."
³⁹ Islam, S. M. M., Gaihre, Y. K., Islam, M. R., Ahmed, M. N., Akter, M., Singh, U., & Sander, B. O., "Mitigating greenhouse gas emissions from irrigated rice cultivation through improved fertilizer and water management."
⁴⁰ Islam, A. R. M. T., Islam, H. M. T., Shahid, S., Khatun, M. K., Ali, M. M., Rahman, M. S., Ibrahim, S. M., & Almoajel, A. M., "Spatiotemporal nexus between vegetation change and extreme climatic indices and their possible causes of change."
⁴¹ Chowdhury, B. U., Nengzouzam, G., & Islam, A., "Runoff and soil erosion in the integrated farming systems based on micro-watersheds under projected climate change scenarios and adaptation strategies in the eastern Himalayan mountain ecosystem (India)."
⁴² Islam, R., French, E., & Ali, M., "Evaluating board diversity and its importance in the environmental and social performance of organizations."
⁴³ Kiani, A., Ali, A., Wang, D., & Islam, Z. U., "Perceived fit, entrepreneurial passion for founding, and entrepreneurial intention."
⁴⁴ Islam, M. A., Hack-Polay, D., Rahman, M., Jantan, A. H., Dal Mas, F., & Kordowicz, M., "Gender and leadership in public higher education in South Asia: examining the individual, socio-cultural and organizational barriers to female inclusion."
⁴⁵ Islam, M. S., & Haque, A., "Faculty readiness for online crisis teaching: The role of responsible leadership and teaching satisfaction in academia."



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PBICT

  MANAJEMEN PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN BERBASIS ICT: SEBUAH ANALISIS DARI PERSPEKTIF PENELITI Peneliti Independen Pusat Studi Inovasi Pendi...